Sejarah Hari Raya Waisak Dan Makna Penting Bagi Umat Buddha

Sejarah Hari Raya Waisak Dan Makna Penting Bagi Umat Buddha – Pada hari Senin, Tanggal 16 Mei 2022 Yang Lalu, semua umat Buddha di seluruh dunia merayakan Hari Raya Waisak 2556 BE. Pada hari raya Waisak umat Buddha memperingati tiga hal peristiwa yang penting. Kata Waisak sendiri berasal dari kosa kata bahasa Sansekerta Waishakha yakni, Pali Vesakha.

Hari raya Waisak diperingati untuk memperingati 3 peristiwa penting yaitu kelahiran, pencerahan, dan kematian Sang Buddha, Pangeran Siddharta Gautama menjadi sang Buddha ketika berusia 35 tahun dan kematian Gautama terjadi pada tahun 543 SM, saat ia berusia 80 tahun. Sesudah kematian Sang Buddha, para muridnya bersujud untuk penghormatan terakhir. Pangeran Gautama Siddharta Gautama lahir di keluarga kaya, sebagai pangeran di Nepal.

Sejarah Hari Raya Waisak Dan Makna Penting Bagi Umat Buddha

Hari raya Waisak adalah waktu bagi seluruh umat beragama Buddha untuk meluangkan waktu di kuil suci atau vihara untuk bermeditasi, setelah membaca khitab suci dan memberikan sedekah kepada biksu yang ada. Contoh perayaan Waisak di vihara saat Hari Raya Waisak di Vihara di Brickfields, Malaysia. Acara dimulai saat matahari terbit ketika seluruh umat buddha berkumpul di vihara untuk bermeditasi. Mengenai tentang sejarah, tentu saja banyak cerita yang pasti kita lewatkan.

Seperti umat agama Buddha yang menekuni ajaran seorang Lelaki bernama Siddhartha Gautama yang juga dikenal sebagai Sang Buddha. Siddhartha dipercaya sebagai seseorang pangeran yang terlahir dari keluarga kaya raya pada abad ke-5 Masehi. Namun, Pangeran Siddharta Gautama menyadari bahwa kekayaan dan juga kemewahan yang di miliki tidak menjamin sebuah kebahagiaan. Dengan itu ia melakukan perjalanan panjang sebagai orang suci tunawisma untuk memahami lebih banyak tentang dunia dan melihat penderitaan yang ada di dunia.

Butuh waktu selama enam tahun lamanya untuk belajar tentang bermeditasi dalam perjalanan. Dia menjadi sadar dan mengerti secara psikis dan mencapai tujuannya untuk menemukan makna dalam kehidupan dan ini disebut sebagai pencerahan. Sejak itu, setelah menjadi seorang Sang Buddha dan sering mengajarkan pengikutnya tentang pengalamannya tentang dunia dan melihat penderitaan. Buddha diartikan sebagai gelar yang artinya tercerahkan.

Dari cerita di atas, hari raya Waisak dirayakan setiap 1 tahun sekali, dan berlangsung pada tanggal yang selalu berbeda setiap tahunnya karena mengacu pada bulan lunar kuno yang bisa jatuh pada bulan Mei dan awal Juni. Dalam perayaan Hari Raya Waisak atau Trisuci Waisak yang mempunyai makna mengingat sejarah kehidupan Pangeran Siddhartha Gautama, mulai dari masa kecil, menjadi Buddha, hingga kematiannya.

Sementara itu, di Negara Indonesia sendiri ada beberapa kota yang melakukan memperingati Hari Raya Waisak, salah satunya adalah pusat acara yang bertempat di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Di hari raya tersebut terdapat beberapa rangkaian acara yang sakral seperti karnaval 3 Km dengan membawa kebaktian yang dilengkapi dengan buku, air dan api.

Belajar di Hari Waisak, Ajaran Agama Buddha

Delapan Jalan Kebenaran

Di dalam ajaran agama Buddha ada 8 jenis jalan kebenaran yang disebut sebagai roda dharma. Setiap jalan menyimbolkan delapan jalan menuju kebebasan dari penderitaan dunia. 8 jalan roda dharma melingkupi pikiran benar, pemahaman benar, perbuatan benar, ucapan benar, mata pencaharian benar, perbuatan benar, kesadaran benar, usaha benar dan konsentrasi benar.

Ehipassiko 

Ehipassiko memiliki makna dan arti yang sangat dalam dengan pendekatan yang rasionalisme, “datang, lihat dan buktikan”. Ajaran Buddha yang anda pelajari, silahkan uji dan coba kebenarannya terlebih dahulu dan buktikan sendiri manfaatnya, tidak boleh langsung diterima hanya begitu saja. Ajaran ini masih berarti dengan kondisi masyarakat sebagai bagian dari teknologi dan media sosial.

Kita sebagai salah satu contoh anggota masyarakat yang berakal dan peduli dengan media sosial, kita perlu harus berhati-hati dan bijaksana dalam berpegang dalam ajaran agama untuk memberi informasi. Dalam hal ini Sang Buddha Guru Agung sudah mengajarkan dua cara untuk melatih murid-murid-Nya untuk penyebaran ajaran yang berbeda.

Pertama, jangan percaya dengan begitu saja. Ajaran agama Buddha dengan tegas dan jelas menyampaikan dalam khotbah-Nya yang dengan judul Kesaputtiya Sutta atau disebut dengan Kalama Sutta (Anguttara Nikaya 3.65). Sang Buddha menasihati orang untuk tidak mudah mempercayai hal-hal yang belum diketahui melalui investigasi. Hal yang tidak boleh dianggap sepele antara lain adalah “perkataan orang”, termasuk perkataan dari seseorang yang dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh.

Kedua, datang dan cari tahu sendiri. Sang Buddha mengajak semua orang untuk membuktikan sendiri, mengalami sendiri apa yang terdapat dalam ajaran-Nya. Sang Buddha menjelaskan Dhamma atau Kebenaran yang Di ajarkan adalah ajakan kepada semua umat tanpa kecuali untuk datang dan melihat, memverifikasi apa yang di dengar untuk mendapatkan bukti dan kebenaran dari apa yang sudah di dengar dari pada hanya mempercayainya.

Tanpa Diri

“Kamu selalu berubah” Anda berada di masa sekarang, Anda berada di masa lalu, Anda berada di dua detik berikutnya, tidak, Anda selalu sama. Obsesi kami dengan identitas dan label sangat menyesatkan. “Siapa kita”, “bagaimana seharusnya kita bersikap”, “kita harus menjadi apa” untuk terus mempertanyakan hal-hal tentang diri kita yang akan selalu berubah ini sepertinya sia-sia.

Tidak Menjadi Buddha

Tujuan Anda mempelajari agama Buddha belum tentu menjadi seorang Budha. Jika ada ajaran Budha yang menurut Anda bermanfaat, gunakan itu untuk menjadi diri Anda yang lebih baik, apa pun keyakinan (atau ketidakpercayaan) yang Anda anut.
Tujuan Hidup

Ajaran Buddha tidak berusaha menjawab semua pertanyaan kehidupan, tetapi ingin membebaskan kita dari beban pertanyaan-pertanyaan ini. Beberapa contoh pertanyaan tentang keberadaan Anda di dunia seperti, apa tujuan hidup?”, “Apa yang terjadi setelah kematian?”, “Siapa pencipta segalanya?”, “Apa arti keberadaan saya?” Banyak jawaban atas pertanyaan terbesar tentang kehidupan masih menjadi misteri.

Demikian ulasan tentang , Ini Dia Sejarah Hari Raya Waisak, Makna Penting Bagi Umat Buddha. Semoga bermanfaat.